Stres Akademik Pada Seorang Pelajar
Ditulis oleh Tiara Lestari Asmara
Saat ini, tak jarang stres juga
dialami oleh para pelajar. Stres yang di alami seorang pelajar sangatlah
menganggu akademik pelajar tersebut. Stres pada pelajar dalam proses
pembelajaran atau pada fase seorang pelajar menempuh pendidikan sering disebut
dengan istilah stres akademik. Pada SMA N 4 Bandung hasil penelitian menunjukan
bahwa setiap aspek stress akademik pada pelajar dari aspek fisik berada pada
kategori sedang dengan presentase 46,63%, aspek perilaku 30,94%, aspek proses
berpikir 44,24%, dan aspek emosi 48,60%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pelajar mengalami stres akademik (Azmy, Nurihsan, Yudha : 2017). Lalu mengapa
stres akademik bisa dialami oleh seorang pelajar? Faktor apa saja yang
mendorong potensi munculnya stres akademik tersebut? Dan dampak apa yang
disebabkan oleh stres akademik? Serta bagaimana cara mengatasi atau menghentikan
stres akademik? Mari kita ketahui lebih lanjut mengenai fenomenologi stres
secara lebih mendalam lagi.
Stres merupakan salah satu gangguan
kejiwaan yang bisa dialami oleh siapa saja. Baik anak kecil, remaja, orang
dewasa, sampai orang tua pun bisa mengalami stres. Stres merupakan bagian dari
kehidupan seseorang yang sering kali dialami, baik stres ringan atau stres
berat karena individu tidak mampu mengatasi stres yang menimpanya tersebut.
Defini stres sendiri adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan
dalam diri individu. Stres ini muncul dari tuntutan-tuntutan lingkungan maupun
tuntutan-tuntutan yang berasal dari dalam diri individu sendiri baik secara
fisiologis, psikologis, dan emosional namun individu tidak mempunyai kepasitas
atau kemampuan untuk memenuhi tuntutan tersebut dan terjadi kesenjangan antara
tuntutan dan kapasitas diri seorang individu. Sehingga terjadi konflik batin
dimana kenyataan tidak sesuai dengan harapan dan kemampuan diri seorang
individu. Stres dapat bersumber dari berbagai hal yang disebut sebagai stresor.
Individu yang mengalami stres akan berusaha untuk mengatasinya. Usaha yang
mendorong individu dalam mengatasi stres disebut dengan coping stres.
Yang menjadi perhatian kali ini
adalah stres akademik. Stres akademik adalah stres yang terjadi di lingkungan
sekolah atau pendidikan biasanya disebut dengan stres akademik (Sinaga, M. A.
J. 2015; Rahmadani, C. S. M. 2014; Hikmah, Y. 2014; ). Desmita (2010)
menyatakan “Stres akademik adalah stres yang disebabkan oleh akademik stresor”[1].
Akademik stresor adalah faktor yang memicu adanya stres pada diri seorang
pelajar. Para pelajar melaporkan pengalaman mereka dengan tekanan akademis yang
tinggi pada waktu yang dapat diprediksi di setiap semester yang berakibat dari
mempersiapkan dan mengikuti ujian, persaingan kelas peringkat, dan menguasai
sejumlah besar silabus atau pelajaran yang relatif dengan waktu yang sedikit [2](Rawson,
Bloomer,& Kendall, 1999). Biasanya para pelajar yang mengalami stres ini
mempunyai persepsi yang maladjustment atau tidak bisa menyesuaikan diri
terhadap akademik stresor. Tekanan persepsi maladjustment ini akan direspon
oleh para pelajar baik secara fisik, pikiran, perilaku maupun emosi yang
mengarah pada hal yang negatif. Ada banyak sekali stresor akademik baik berasal
dari faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor internal merupakan segala
faktor yang berasal dari dalam diri individu sendiri dimana faktor tersebut
mempunyai potensi munculnya stres. Ada beberapa faktor internal yang memicu adanya
stres yaitu yang pertama adalah pola pikir, bagaimana cara individu berpikir
dalam menghadapi situasi. Sering kali seorang pelajar berpikir tidak dapat
mengendalikan situasi dan berpikir menuju arah yang negatif, hal ini
menyebabkan stres yang dialami seorang pelajar semakin besar. Semakin besar
kapasitas seorang pelajar dalam mengendalikan situasi, maka semakin kecil pula
kemungkinan seorang pelajar mengalami stres. Kedua yaitu kepribadian.
Kepribadian seorang pelajar dapat menentukan tingkat toleransinya terhadap
stres. Tingkat stres seorang pelajar yang optimis biasanya lebih kecil
dibandingkan siswa yang sifatnya pesimis[3].
(Barseli, Ifdil, Nikmarijal : 2017). Yang ketiga yaitu keyakinan. Keyakinan
terhadap diri memainkan peranan penting dalam menginterpretasikan
situasi-situasi di sekitar individu. Penilaian yang diyakini siswa dapat
mengubah pola pikirnya terhadap suatu hal bahkan dalam jangka panjang dapat
membawa stres secara psikologis. (Barseli, Ifdil, Nikmarijal : 2017). Motivasi
yang ada didalam diri seorang pelajar lah yang mempengaruhi bagaimana pelajar
mengatasi masalahnya. Jika motivasi tinggi, maka seorang pelajar akan semakin
berusaha dengan keras untuk mengatasinya, berbeda dengan motivasi rendah yang
dimiliki seorang pelajar maka stres yang dialaminya akan semakin berat dan lama
karena tidak ada kemauan dari dalam diri seorang pelajar untuk sembuh.
Faktor eksternal merupakan segala
faktor yang berasal dari luar diri seorang individu. Faktor eksternal juga
mempunyai peranan yang tidak kalah penting dalam pemicu adanya stres pada diri
seorang pelajar. Beberapa faktor eksternal yang memicu adanya stres akademik
antara lain ialah pelajaran yang lebih padat, sering berganti-ganti kurikulum
juga berdampak pada penyempurnaan proses pembelajaran. Alhasil pelajaran dan
waktu belajar semakin bertambah, padatnya pelajaran dan waktu ini memberikan
tekanan pada para pelajar, akibatnya para pelajar yang tidak bisa mengikuti
menjadi stres. Lalu tekanan dari lingkungan sekitar seperti orang tua dan masyarakat.
Munculnya persepsi bahwa anak yang pintar selalu mempunyai prestasi yang
tinggi. Persepsi ini memicu adanya tekanan untuk berprestasi tinggi oleh
pelajar dan orang tua belomba untuk menghasilkan anak yang pintar dengan
prestasi tinggi dan mempunyai ketrampilan diberbagai aspek. Ditambah lagi di
dalam masyarakat, anak yang mempunyai prestasi tinggi lebih dihormati, dan anak
yang tidak berprestasi dibeli label sebagai anak yang malas dan sulit.
Tekanan-tekanan seperti itu mendorong munculnya stres akademik pada para
pelajar.
Stres akademik yang ada ini akan
mempengaruhi langkah ke depan para pelajar dalam menempuh pendidikan. Stres
akademik sangat berdampak pada bagaimana cara siswa mengatur pendidikannya,
karena gelaja dari stres ini menggangu pada fisiologis, psikologis, dan
emosional pelajar. Pelajar akan merasakan gelisah, cemas, panik dan rasa takut.
Perasaan tersebut akan berpengaruh pada cara berpikir dan bertindak setiap
pelajar. Perlu diketahui bahwa setiap pelajar memiliki kecenderungan yang
berbeda dalam menyikapi stres. Ada yang memilih untuk menyendiri, melampiaskan
amarah pada orang lain, menangis tanpa alasan, bahkan bertindak agresif. Mereka
sama-sama memiliki tekanan yang mengganggu kejiwaan mereka. Akibatnya mereka
akan sulit berkonsentrasi, kegagalan dalam pembelajaran, motivasi belajar yang
rendah, kehilangan rasa percaya diri, dan terus memikirkan apa yang seharusnya
mereka lakukan dan tak jarang pula mereka sering menyalahkan diri mereka
sendiri. Ada juga kencenderungan seorang melepaskan rasa stresnya dengan
bermain game online. Bermain game onlie sebagai bentuk peralihan dari stres
yang sedang dialami, semakin tinggi tingkat stres maka semakin panjang durasi
dalam bermain game online. Ada juga yang melampiaskannya dengan membeli barang-barang
secara online untuk mendapatkan kebahagiaan dan melampiaskan rasa stresnya.
Pembelian barang secara online ini mengarah pada perilaku hedonisme. Terkadang
stres juga mengundang reaksi tubuh seperti pusing, mual, susah tidur, nafsu
makan berkurang, dan siklus menstruasi yang berubah-ubah pada pelajar wanita.
Stres yang berkepanjangan dan tidak diselesaikan dengan baik akan menimbulkan
depresi.
Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi stres akademik? Upaya untuk mengatasi stres disebut dengan coping stres.Lazarus & Folkman (1984: 148-150) mengkategorikan menjadi dua strategi koping. (1) Appraisal Focused Coping Strategies, yaitu individu dalam mengatasi stress dengan cara menerimanya dan menenangkan diri (2) Problem focused coping, yaitu usaha individu dalam mengatasi stress dengan cara mengatur dan mengubah masalah atau lingkungan yang menyebabkan terjadinya tekanan. Tujuan dari problem focused coping untuk mengurangi tuntutan dari lingkungan menekan atau memperluas sumber daya untuk mengatasinya; (3) Emotion focused coping, yaitu usaha indivu dalam mengatasi stress dengan mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan[4]. (Azmy, Nurihsan, Yudha : 2017). Di mulai dengan upaya dari diri sendiri dapat dilakukan dengan strategi pemikiran, bahwa seorang pelajar harus memiliki peta pemikiran yang positif dalam menghadapi situasi, seperti mempunyai rasa optimistis dan percaya diri yang tinggi serta yakin pada kemampuannya bisa menyelesaikan masalah. Lalu tingkat religius seorang pelajar juga mempengaruhi, bahwa semakin tinggi tingkat religiusitas seorang pelajar maka semakin tinggi pula upaya coping stres yang dilakukan. Religiusitas dapat mempertinggi kemampuan seseorang dalam ketegangan akaibat masalah yang dihadapi. Pola hidup yang sehat juga dapat mengurangi tingka stres pada pelajar. Asupan dan gizi yang seimbang akan menjadikan tubuh menjadi lebih sehat dan emosional pelajar akan ada pada kondisi mood yang baik. Disamping usaha yang bisa dilakukan sendiri oleh pelajar, dari sisi lingkungan sekitar seperti keluarga, rekan sebaya, dan guru juga berperan dalam strategi coping stres. Keluarga memiliki peranan yang dominan di dalam mengurangi stres seorang pelajar, karena didalam keluarga seorang pelajar lebih banyak menghabiskan waktunya. Orang tua harus memberikan motivasi dan semangat yang positif kepada anak, tidak terlalu menekan dan mengatur anak, dan memberikan anak kesempatan untuk melaksanakan pendidikannya sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat anak. Sehingga anak tidak merasa tertekan dan nyaman karena ada dukungan positif dari keluarga terhadap setiap tindakan dan keputusan yang dibuat anak dalam karir pendidikannya. Lalu teman sebaya, teman yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula. Dan peran guru sebagai orang tua kedua di sekolah. Di dalam satuan pendidikan terdapat guru bk. Salah satu tugas dari guru bk sendiri adalah memberikan konseling kepada pelajar ketika mengalami kendala. Stres akademik bisa diatas dengan konseling oleh guru bk, bisa dengan restrukturisasi kognitif efektif untuk mereduksi indikator stres akademik pelajar. Dan bisa juga dengan konseling kelompok dalam mengurangi stres akademik. Setelah pelajar yang mengalami stres akademik melakukan layanan konseling, guru bk dan guru kelas atau guru mapel lainnya hendaklah bekerja sama dalam mengamati perkembangan pelajar tersebut. Apakah menunjukan perubahan yang lebih baik atau sebaliknya. Stres akademik harus diatasi dengan strategi coping stres yang baik, agar tidak menimbulkan masalah yang lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Azmy,
A.N., Nurihsan, A.J., & Yudha E.S. (2017). Deskripsi Gejala Stres Akademik
dan Kecenderungan Pilihan Strategi Koping Siswa Berbakat. Indonesian Journal of Educational Counseling, 1, 197-208
Barseli, M. Ifdil, I. Nikmarjial, N. (2017). Konsep Stres
Akademik Siswa. Jurnal Konseling dan
Pendidikan, 5, 143-148
Darmawanti, I. (2012). Hubungan Antara Tingkat Religiusitas
dengan Kemampuan Dalam Mangatasi Stres (Coping Stress). Jurnal Psikologi : Teori & Terapan), 2, 24-29
Johari, A.B. Hassim, I.N. (2009). Stress and Coping
Strategis Among Medical Students in National University of Malaysia. Journal of Community Health, 15
Khan,
M.J. (2013) Effect of Perceived Academic Stres on Student’s Performance. FWU Journal Social Sciences, 7, 146-151
Lou, Y. Byun, S.E. (2018). Stress-Driven Spending :
Correlates of International Students’ Adjusment Strains and Compulsive Online
Buying. Journal of International Students,
8, 1522-1548
Mahfar, M. Zaini, F. Nordin, N.A. (2007). Analisis Faktor
Penyebab Stres di Kalangan Pelajar. Jurnal
Kemanusiaan, 9
Piyeke, J.P. Bidjuni, H. Wowiling, F. Hubungan Tingkat Stres
dengan Durasi Waktu Bermain Game Online Pada Remaja di Manado.Universitas Sam Ratulangi
Rachma,
N.F. (2014). Penerapan Konseling
Kelompok dengan Menggunakan Strategi Coping untuk Mengurangi Stres Belajar
Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tuban. Jurnal
BK, 4, 1-10
Ragsdale, J.M. Terry, A. Beehr. Grebner, S. Han, K. (2011).
An Integrated Model of Weekday Stress and Weekend Recovery of Students. International Journal of Stress Management,
18, 153-180
Rahmawati,
W.K. (2015). Keefektifan Peer Support untuk Meningkatkan Self Discipline Siswa
SMP. Jurnal Konseling Indonesia, 2,
15-21
Siregar,
I.K. Putri, S.R. (2019). Hubungan Self-Efficacy dan Stres Akademik Mahasiswa. Consilium : Berkala Kajian Konseling dan
Ilmu Keagamaan, 6, 91-95
Sukadiyanto.
(2010). Stress dan Cara Menguranginya. Cakrawala
Pendidikan, 1
Wibawa,
N.A.K. Widiasavitri, P.N. (2013). Hubungan antara Gaya Hidup Sehat dengan
Tingkat Stres Siswa Kelas XII SMA Negeri di Denpasar Menjelang Ujian Nasional
Berdasarkan Strategi Coping Stres. Jurnal
Psikologi Udayana, 1, 138-150
Yaacob, S.N. Juhari, R. Talib, M.A. & Uba, I. (2009).
Loneliness, Self Esteem, and Depression Among Malaysian Adolescents. Jurnal Kemanusiaan, 14

Bermanfaat sekali๐
BalasHapusInformatif sekali ๐
BalasHapusTerimakasih atas informasinya, sangat membantu saya kelak jadi orang tua hehe
BalasHapuskeren sekali infonya ๐๐๐
BalasHapusDitingkatkan lagi, Bu๐๐ป
BalasHapuswah saya jd tau bagaimana cara mengatasi stress akademik๐
BalasHapus๐๐ป๐๐ป
BalasHapusSangat nermanfaat
BalasHapus๐๐ป
BalasHapusTerimkasih ilmunya ๐
BalasHapusMamtab
BalasHapusBermanfaat banget
mantabbb
BalasHapusKeren kak, sangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusKeren mbak. Semangatt selalu
BalasHapusBErmanfaat sekali artikelnya, bahasa yg digunkan pun mudah dipahami๐๐ป
BalasHapusKeren bangett๐
BalasHapusMangstapps๐
BalasHapusthanks min sudah sharing ilmu ๐๐ผ
BalasHapus